Minggu, 20 November 2016

CERPEN BAHASA INDONESIA. CREATED BY : AHLUL IHSAN RAMADHON

Terimakasih Buyah

                Apakah setiap orang yang telah dilahirkan ke dunia ini akan memiliki tujuan hidup yang sama? Jika tidak, mengapa sungguh banyak orang yang masih menyia-nyiakan kehidupannya. Sedangakan diluar sana, masih banyak orang yang berjuang demi kehidupan yang lebih baik dengan segala keterbatasannya. Sesungguhnya mereka adalah orang yang sangat beruntung...
               
                Semua terasa begitu hebat, luarbiasa di dalam bayangan imajinasi ini. Penuh kegelapan yang menelan segumpal impian dan pertanyaanku. Mengapa setiap aku mengalami hal itu (mimpi), sungguh aku tak kuasa membayangkan kehidupan ini dengan apa yang aku punya. Mereka pernah bilang bahwa orang yang cacat fisiknya tidak akan pernah sukses!. Aku sangat tidak menyetujui karena disini aku bisa melakukan apa yang mereka tidak bisa lakukan, aku membuktikan bahwa omongan itu hanya lelucon belaka bagi mereka.

                Yaa namaku Nomi. Aku memang tidak terlahir sempurna, aku tidak seperti mereka, aku hanya bisa mengayunkan pegerak ini dengan kekuatan dan kesabaranku, aku tidak menyesali itu, tapi aku malu kepada diriku, “apa yang lebih indah dari seorang anak yang tidak mampu bergerak lincah? Apa yang lebih baik dari seorang anak yang tak jelas ini?” Sebenarnya Aku tidak perduli apa yang mereka bilang padaku, tapi kadang ada benarnya mereka, apakah kelebihan yang ada pada diriku?, hmmm aku menemukan semua itu saat  semua orang meyuruhku tuk bangun dan berlari. Tidak selamanya kita harus terpaku dalam kesedihan, Aku memulai hidup ini dengan apa yang telah Tuhan berikan. Semuanya itu sangat indah, indah sekali, Aku sangat mensyukuri itu. Hidupku ini memang tidak seperti yang lain, aku dibesarkan oleh orang yang bahkan tidak ada ikatan apapun dengan keluargaku. Aku menyebutnya buyah, iya buyah yaitu ibu sekaligus ayah pengganti bagiku. Dia sangat baik, ramah, dermawan, cantik bahkan perkasa, betapa beruntungnya Aku memiliki dia. Dia selalu menjadi tameng saat kata pedas dan cacian apapun datang kepadaku. Dia selalu menjadi pendukung terbaikku, yang selalu menggotongku jika Aku benar-benar lelah setelah bermain. Dia selalu menjadi selimut hangatku yang memeluk tubuhku saat malam menusuk tulangku. Dia selalu menjadi dokter istimewaku yang mampu membuat wajahku tersenyum saat jarum tajam itu menembus kulitku. Ya seperti Aku katakan tadi, dia segalanya bagiku.. Aku sangat menyayanginya, bahkan Aku tak mampu membayangkan hidupku tanpanya.

                Bulan ini memasukki usia ku yang ke 17 tahun. Tidak pernah memikirkan apapun tentang masalalu ku, tetapi entah mengapa setiap Aku bertambah satu tahun Aku selalu ingat kepada orangtuaku.. pertanyaan biasa pun selalu membayangiku, “Dimanakah mereka berada? Sedang apa mereka? Apakah mereka memikirkanku? Apakah mereka sama seperti orangtua yang tega meninggalkan anaknya sampai 17 tahun ini? Atau mereka tidak punya hati seperti orangtua yang suka membunuh anak-anaknya?.. lantas apakah maksud dari pernyataan “ tidak ada orangtua yang membenci anaknya, semua orangtua pasti menyayangi anaknya dengan cara mereka masing masing” lalu cara seperti apa yang orangtuaku terapkan selama ini kepadaku? Aku tidak mengerti hidupku ini, rasanya seperti Aku adalah sesuatu yang lebih hina dari binatang, bahkan orangtua ku sendiri pun rela menghilang entah mereka pergi atau sudah tiada. Sungguh hari ini penuh bayangan – bayangan tentang orangtua ku, Aku berusaha mencari jawaban tentang semua ini namun  menutupi ini semua lebih baik demi tidak membuat buyah sedih. Tapi tak kuasa aku menyimpannya sehingga buyah pun mulai curiga dan mendekatiku.
“Ndok, ada apa lagi to? Buyah itu sedih setiap melihat mu merenung seperti ini, pasti merenungkan tentang orangtua mu lagi yaa?” Ujar Buyah.
“Ehhmmm, ndak bu, Nomi tidak sedang merenungkan hal itu lagi” Nomi menjawab.
“Lalu mengapa wajah mu terlihat sedih, jangan sedih gitu nak buyah sudah menganggap kamu sebagai anak bahkan pendamping buyah satu satunya” kata buyah.
“Iya bu, Nomi hanya heran mengapa sampai saat ini belum ada kabar dari orang tua Nomi” jawabnya.
“Yaudah yang penting sekarang kamu sudah punya Buyah yang akan selalu mendampingimu (dengan wajah senyum)”  buyah mencoba membuatnya tersenyum.
“Iya, Nomi sayang buyah (senyum dan memeluk buyah)” reaksi Nomi.
“Oh iya nak, hampir saja Buyah lupa...  ini Buyah ada kado untukmu”  buyah memberi kado untuk Nomi.
“Apa ini Buyah? Hmm Aku boleh membukanya?” tanya Nomi
“Iya nak buka saja, Buyah ke dapur dulu ya” jawab Buyah.

                Aku pun membuka kado pemberian Buyah dengan penuh hati serta harapan yang baik. Sehelai tali yang mengikat kado tersebut perlahan lahan merenggangkan bungkusan kado yang sangat sederhana ini.  Kertas putih bertinta biru terlihat setelah bungkusan kado itu ku buka, dengan senang hati aku mengambil kertas tersebut dan membaca rangkaian kata yang tersusun rapih di kertas itu. Terlintas dalam pikirku rangkaian ini adalah harapan serta doa doa Buyah kepadaku kelak. Sebelum ku melanjutkan membaca kertas itu, sekilas bayangan dari dapur nampak memergokki ku, aku seperti mengenali sandal yang dikenakannya. Ya benar itu adalah sandal Buyah, sungguh apakah sebenarnya yang dilakukan Buyah disana, mengapa Dia mengintipi ku begitu, apakah ini ada kaitannya dengan kado yang diberikannya. Hhh Aku tak tahu tapi ku berpura pura tidak melihat Buyah disana agar Dia tidak curiga kepadaku. Ku teruskan membaca kertas itu kata demi kata ku cerna berharap menememukan sepatah kata yang berhubungan dengan orangtua ku. Dan benar saja kertas itu berisi tentang orangtua ku, benar benar tega Buyah ini, mengapa Dia baru memberitahuku sekarang. Tak kuasa ku menahan kepalsuan selama ini, orang ku sayang tega membohongiku selama ini.  “Aku berharap tidak akan pernah mengenal Buyah, lebih baik ku pergi dari sini daripada hidup dengan pembohong sepertinya” pikirnya.
                Tanpa sepatah kata apapun Nomi pun pergi meninggalkan ibu sekaligus ayah yang rela merawatnya hingga 17 tahun kini, ia meninggalkan segalanya dan tidak pernah berharap tinggal bersama pembohong yaitu Buyah. Buyah yang tak kuasa menahan tangis sangat anak satu satunya yang ia miliki pergi meninggalkannya tanpa sepatah kata apapun.
                “Yaa Tuhan mengapa dia tak begitu cermat dalam menghadapi persoalan Mu, Aku yakin pasti Nomi tidak membaca tulisanku semuanya bahkan Dia tidak menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, Dia pasti kecewa besar kepadaku, tolonglah diriku ini yang tak mampu membuatnya melupakan orangtuanya di hari bahagia ini, kini semuanya sudah terjadi dan sulit untuk ku perbaikki. Ya Tuhan lindungilah Nomi beri Dia kesabaran. Sungguh aku tidak akan pernah memaafkan orang yang berani menyakitinya sedikitpun.”

                Kekhawatiran Buyah terhadap Nomi anak angkat satu – satunya yang Ia miliki selalu terlintas dalam pikirnya yang mulai tak sanggup tuk menyimpan segala perasaan dalam benaknya. Kini Buyah mulai mencari Nomi yang entah pergi kemana. Matahari di atas kepala pasti akan mengganggu Nomi, sinar panas itu akan membakar kulit dan pegeraknya serta memudarkan warna rambutnya. Entah mengapa pikiran Buyah begitu jauh tapi itulah tanda kasih sayang serta perhatiannya kepada Nomi selama ini. Waktu terus mengubah jarum panjang jam hingga langit bewarna kelabu, kekhawatiran Buyah semakin kuat kalau saja kakinya mampu berjalan jauh ia pasti sudah berkeliling kampung ini. Tapi Buyah hanya bisa berdoa dan berharap semua kebaikan bersamanya.

                Aku mulai takut, matahari sudah menyembunyikan sinarnya dan bula mulai menggantikan posisinya. Kemana aku harus pergi, pasti Buyah sedang memikirkanku tapi ku tak perduli semua kasih sayangnya selama ini hanya palsu belaka, untuk apa ku memikirkan pembohong sepertinya. Sepertinya ada tempat pos satpam disana akan lebih baik ku berisitirahat disana untuk semalam ini. Sudah berapa jauhkah diriku melangkah dengan tongkat ini sampai aku tak mengenali tempat ini sedikitpun. Setelah aku tepat berada di pos tersebut tak ada seorang pun terlihat oleh ku, karena tubuhku sangat lelah aku tak sanggup tuk bergerak banyak lagi, dan ku putuskan untuk bermalam disini. Aku tak mampu memejamkan mata sayu ini, sepertinya tidurku kali ini akan berbeda dari biasanya, mengingat tubuh Buyah sebagai selimut ku kala dinginnya malam menusuk tulangku.  Terlintas bayangan tentang Buyah dan kado pemberiannya yang membuatku tak berdaya sampai saat ini, tak kuasa hatiku membaca isi kertas kado itu hingga aku tak membaca sampai selesai. Teringat kata – kata tentang orangtua ku di kertas tersebut sambil memejamkan mata ini dan ku mulai tak sadar perlahan lahan hingga akhirnya memasukki dunia mimpi.
                “Sebelumnya Buyah minta maaf dari hati terdalam, Buyah juga tidak ingin membuatmu menangis bahkan kecewa atau marah kepada Buyah, namun Buyah rasa kamu sudah cukup dewasa untuk mengetahui segalanya. Hmm Buyah yakin pasti kamu dapat membacanya dengan cermat dan sepenuh hati. Jadi sebenarnya orangtua mu itu .... ya ibumu telah lama meninggal saat melahirkan mu karena kondisi kelahiranmu yang tidak seperti bayi pada umumnya Buyah memutuskan untuk menyembunyikan kematian ibumu sampai kamu cukup dewasa untuk mengetahuinya. Kini Buyah yakin kamu sudah pantas untuk mengetahuinya... sedangkan bapak mu nak, dia telah lama menjadi TKI sejak usiamu 3 tahun. Pada saat itu Buyah hanya sebagai tetanggamu yang bahkan tidak ada kaitan keluarga dengan mu, tapi Buyah tak tega melihat dirimu yang ditinggal pergi oleh ayahmu melampau batas negeri ini. Mungkin Buyah tak ingin menjadi sesosok pahlawan didepan mu tapi ini semua demi kebaikanmu sayang. Sejak saat itu Buyah memberanikan diri tuk mengasuhmu karena tak ada seorang pun yang ingin mengasuh anak dengan tongkat sepertimu. Tapi hal itu tak berlaku bagi Buyah, Buyah menyayangimu apa adanya dengan buih buih cinta dan kasih sayang Buyah membesarkanmu, merawatmu, bahkan Buyah sudah menganggapmu sebagai anak kandung Buyah sendiri. Kau tahu betapa sakitnya Buyah saat kau dihina orang lain? Kau tahu betapa pedihnya hati ini saat kau sakit? Dan kau tahu betapa lemahnya diriku saat kau mencoba berjalan?... buyah bukan bermaksud membohongimu, tapi Buyah hanya tidak ingin membuatmu cemas karena kau tidak boleh berpikir terlalu banyak mengingat kondisimu yang tak seperti orang pada umumnya. Seharusnya Buyah tak melakukan ini tapi harus bagaimana lagi. Buyah sayang kau Nomi, jangan marah apalagi kecewa kepada Buyah. Maafkan kejujuran ini walau menyakitkan karena takkan mungkin bisa Buyah bertahan dengan menyembunyikan ini semua. Sekali lagi tolong maafkan Buyah....”
                Iyaa Buyahhh maafkan Nomiiiiiii. HH HH HH HH, ternyata hanya mimpi, tapi mengapa begitu nyata yaa apakah ini tanda bahwa kebenaran dalam mimpiku itu nyata? Ayam sudah mengeluarkan suara khasnya , Aku harus cepat kembali ke rumah dan menanyakan ini semua! Kemudian Nomi pun kembali kerumah namun ia tak tahu harus memulai dari mana karena daerah yang kini ia tapakki sudah ia tak kenali. Secepat kilat ia berpikir dan menemukan jawabannya, “oiyaa aku menggunakan tongkat ini tuk berjalan dan syukurnya tanah dikampung ini belum tertupi oleh blok batu sehingga bekas jejak tongkatku akan membantuku untuk menemukan rumah Buyah” pikirnya.
                Lalu Nomi mulai menggerakkan pegerak kakinnya itu, jejak demi jejak ia ikuti hingga berakir pada halaman rumah Buyah.
                “Assalamualaikum, (tok,tok,tok). Buyah ini Nomi, tolong buka pintunya”
                “Waalaikumsalam Nomi (memeluknya dengan erat)”
                “Buyah,,, Nomi ingin bertanya seseuatu kepada Buyah, boleh?”
                “Iya nak, silahkan (melepaskan pelukkannya)”
                “Jadi semalam Nomi bermimpi dan ...”
                “Oh iya nak, Buyah tahu apa yang akan kamu ucap. (memotong pembicaraan Nomi)”
                “hah? Darimana Buyah tau sedangkan aku baru saja memulai berbiara”
                “Ini nak, kamu pasti belum membaca semua isi kado itu kan? Buyah tahu mungkin karena rasa kesal dan kecewa mu sehingga kau tak membaca semua isi kado itu.”(memberi kadonya)
                “ehm, boleh Nomi baca?”
                “iya nak bacalah sepenuh hatimu”
(Setelah membaca semuanya, ternyata tulisan di kertas itu sama persis dengan apa yang Buyah katakan didalam mimpi)
                “Buyah,,, ma.. ma.. maafkan Nomi (menjatuhkan airmata dan memeluk Buyah)”
                “Tak apa nak, tapi mengapa mimpi mu bisa sama persis dengan tulisan Buyah ya?”
                “Tidak tahu, tapi yang jelas pada saat itu Buyah selalu terngiang dalam pikiranku, aku janji
Tidak akan pernah mengulangi kejadian ini.. aku janji Buyah. Aku tidak mau kehilangan mu”
                “Iya nak, Buyah juga tidak akan pernah membiarkan seorang pun memisahkan kita. Buyah sudah memaafkanmu dan kamu, tolong maafkan Buyah ya nak”
                “tidak Buyah, ini semua salah Nomi. Bahkan Nomi tidak akan pernah mampu membalas kasih sayang Buyah selama ini. Terimakasih Buyah atas kado kejujuran Buyah, bagi Nomi itu sangat berharga sampai sampai terbawa mimpi. Hehe”
                “Iya sayang...” (memeluk Nomi dan mengelus rambut panjangnya).

                Kini aku tahu bahwa kasih sayang bukanlah hal yang mampu membuatmu melakukan apa yang kau mau. Tapi hal yang mampu membuatmu tegar, nyaman, dan tak akan pernah merasa sepi. Buyah telah memberikan segalany kepadaku, bahkan aku tak akan pernah bisa membalas sebiji anggur kebaikkannya. Orang tua ku,, aku akan selalu mendoakanmu, semoga kau bahagia di samping Tuhan dan jangan pernah khawatir disini, karena aku memiliki Buyah sebagai malaikat duniaku.

TERIMAKASIH BUYAH...