Terimakasih
Buyah
Apakah
setiap orang yang telah dilahirkan ke dunia ini akan memiliki tujuan hidup yang
sama? Jika tidak, mengapa sungguh banyak orang yang masih menyia-nyiakan
kehidupannya. Sedangakan diluar sana, masih banyak orang yang berjuang demi
kehidupan yang lebih baik dengan segala keterbatasannya. Sesungguhnya mereka
adalah orang yang sangat beruntung...
Semua
terasa begitu hebat, luarbiasa di dalam bayangan imajinasi ini. Penuh kegelapan
yang menelan segumpal impian dan pertanyaanku. Mengapa setiap aku mengalami hal
itu (mimpi), sungguh aku tak kuasa membayangkan kehidupan ini dengan apa yang
aku punya. Mereka pernah bilang bahwa orang yang cacat fisiknya tidak akan
pernah sukses!. Aku sangat tidak menyetujui karena disini aku bisa melakukan
apa yang mereka tidak bisa lakukan, aku membuktikan bahwa omongan itu hanya
lelucon belaka bagi mereka.
Yaa
namaku Nomi. Aku memang tidak terlahir sempurna, aku tidak seperti mereka, aku
hanya bisa mengayunkan pegerak ini dengan kekuatan dan kesabaranku, aku tidak
menyesali itu, tapi aku malu kepada diriku, “apa yang lebih indah dari seorang
anak yang tidak mampu bergerak lincah? Apa yang lebih baik dari seorang anak
yang tak jelas ini?” Sebenarnya Aku tidak perduli apa yang mereka bilang
padaku, tapi kadang ada benarnya mereka, apakah kelebihan yang ada pada
diriku?, hmmm aku menemukan semua itu saat
semua orang meyuruhku tuk bangun dan berlari. Tidak selamanya kita harus
terpaku dalam kesedihan, Aku memulai hidup ini dengan apa yang telah Tuhan
berikan. Semuanya itu sangat indah, indah sekali, Aku sangat mensyukuri itu.
Hidupku ini memang tidak seperti yang lain, aku dibesarkan oleh orang yang
bahkan tidak ada ikatan apapun dengan keluargaku. Aku menyebutnya buyah, iya
buyah yaitu ibu sekaligus ayah pengganti bagiku. Dia sangat baik, ramah, dermawan,
cantik bahkan perkasa, betapa beruntungnya Aku memiliki dia. Dia selalu menjadi
tameng saat kata pedas dan cacian apapun datang kepadaku. Dia selalu menjadi
pendukung terbaikku, yang selalu menggotongku jika Aku benar-benar lelah
setelah bermain. Dia selalu menjadi selimut hangatku yang memeluk tubuhku saat
malam menusuk tulangku. Dia selalu menjadi dokter istimewaku yang mampu membuat
wajahku tersenyum saat jarum tajam itu menembus kulitku. Ya seperti Aku katakan
tadi, dia segalanya bagiku.. Aku sangat menyayanginya, bahkan Aku tak mampu
membayangkan hidupku tanpanya.
Bulan
ini memasukki usia ku yang ke 17 tahun. Tidak pernah memikirkan apapun tentang
masalalu ku, tetapi entah mengapa setiap Aku bertambah satu tahun Aku selalu
ingat kepada orangtuaku.. pertanyaan biasa pun selalu membayangiku, “Dimanakah
mereka berada? Sedang apa mereka? Apakah mereka memikirkanku? Apakah mereka
sama seperti orangtua yang tega meninggalkan anaknya sampai 17 tahun ini? Atau
mereka tidak punya hati seperti orangtua yang suka membunuh anak-anaknya?..
lantas apakah maksud dari pernyataan “ tidak ada orangtua yang membenci
anaknya, semua orangtua pasti menyayangi anaknya dengan cara mereka masing
masing” lalu cara seperti apa yang orangtuaku terapkan selama ini kepadaku? Aku
tidak mengerti hidupku ini, rasanya seperti Aku adalah sesuatu yang lebih hina
dari binatang, bahkan orangtua ku sendiri pun rela menghilang entah mereka
pergi atau sudah tiada. Sungguh hari ini penuh bayangan – bayangan tentang
orangtua ku, Aku berusaha mencari jawaban tentang semua ini namun menutupi ini semua lebih baik demi tidak
membuat buyah sedih. Tapi tak kuasa aku menyimpannya sehingga buyah pun mulai curiga
dan mendekatiku.
“Ndok, ada
apa lagi to? Buyah itu sedih setiap melihat mu merenung seperti ini, pasti
merenungkan tentang orangtua mu lagi yaa?” Ujar Buyah.
“Ehhmmm,
ndak bu, Nomi tidak sedang merenungkan hal itu lagi” Nomi menjawab.
“Lalu
mengapa wajah mu terlihat sedih, jangan sedih gitu nak buyah sudah menganggap
kamu sebagai anak bahkan pendamping buyah satu satunya” kata buyah.
“Iya bu,
Nomi hanya heran mengapa sampai saat ini belum ada kabar dari orang tua Nomi”
jawabnya.
“Yaudah
yang penting sekarang kamu sudah punya Buyah yang akan selalu mendampingimu
(dengan wajah senyum)” buyah mencoba
membuatnya tersenyum.
“Iya, Nomi
sayang buyah (senyum dan memeluk buyah)” reaksi Nomi.
“Oh iya
nak, hampir saja Buyah lupa... ini Buyah
ada kado untukmu” buyah memberi kado
untuk Nomi.
“Apa ini Buyah?
Hmm Aku boleh membukanya?” tanya Nomi
“Iya nak
buka saja, Buyah ke dapur dulu ya” jawab Buyah.
Aku
pun membuka kado pemberian Buyah dengan penuh hati serta harapan yang baik.
Sehelai tali yang mengikat kado tersebut perlahan lahan merenggangkan bungkusan
kado yang sangat sederhana ini. Kertas
putih bertinta biru terlihat setelah bungkusan kado itu ku buka, dengan senang
hati aku mengambil kertas tersebut dan membaca rangkaian kata yang tersusun
rapih di kertas itu. Terlintas dalam pikirku rangkaian ini adalah harapan serta
doa doa Buyah kepadaku kelak. Sebelum ku melanjutkan membaca kertas itu,
sekilas bayangan dari dapur nampak memergokki ku, aku seperti mengenali sandal
yang dikenakannya. Ya benar itu adalah sandal Buyah, sungguh apakah sebenarnya
yang dilakukan Buyah disana, mengapa Dia mengintipi ku begitu, apakah ini ada
kaitannya dengan kado yang diberikannya. Hhh Aku tak tahu tapi ku berpura pura
tidak melihat Buyah disana agar Dia tidak curiga kepadaku. Ku teruskan membaca
kertas itu kata demi kata ku cerna berharap menememukan sepatah kata yang
berhubungan dengan orangtua ku. Dan benar saja kertas itu berisi tentang
orangtua ku, benar benar tega Buyah ini, mengapa Dia baru memberitahuku
sekarang. Tak kuasa ku menahan kepalsuan selama ini, orang ku sayang tega
membohongiku selama ini. “Aku berharap
tidak akan pernah mengenal Buyah, lebih baik ku pergi dari sini daripada hidup
dengan pembohong sepertinya” pikirnya.
Tanpa
sepatah kata apapun Nomi pun pergi meninggalkan ibu sekaligus ayah yang rela
merawatnya hingga 17 tahun kini, ia meninggalkan segalanya dan tidak pernah
berharap tinggal bersama pembohong yaitu Buyah. Buyah yang tak kuasa menahan
tangis sangat anak satu satunya yang ia miliki pergi meninggalkannya tanpa
sepatah kata apapun.
“Yaa
Tuhan mengapa dia tak begitu cermat dalam menghadapi persoalan Mu, Aku yakin
pasti Nomi tidak membaca tulisanku semuanya bahkan Dia tidak menanyakan apa
yang sebenarnya terjadi, Dia pasti kecewa besar kepadaku, tolonglah diriku ini
yang tak mampu membuatnya melupakan orangtuanya di hari bahagia ini, kini
semuanya sudah terjadi dan sulit untuk ku perbaikki. Ya Tuhan lindungilah Nomi
beri Dia kesabaran. Sungguh aku tidak akan pernah memaafkan orang yang berani
menyakitinya sedikitpun.”
Kekhawatiran
Buyah terhadap Nomi anak angkat satu – satunya yang Ia miliki selalu terlintas
dalam pikirnya yang mulai tak sanggup tuk menyimpan segala perasaan dalam
benaknya. Kini Buyah mulai mencari Nomi yang entah pergi kemana. Matahari di
atas kepala pasti akan mengganggu Nomi, sinar panas itu akan membakar kulit dan
pegeraknya serta memudarkan warna rambutnya. Entah mengapa pikiran Buyah begitu
jauh tapi itulah tanda kasih sayang serta perhatiannya kepada Nomi selama ini. Waktu
terus mengubah jarum panjang jam hingga langit bewarna kelabu, kekhawatiran
Buyah semakin kuat kalau saja kakinya mampu berjalan jauh ia pasti sudah
berkeliling kampung ini. Tapi Buyah hanya bisa berdoa dan berharap semua
kebaikan bersamanya.
Aku
mulai takut, matahari sudah menyembunyikan sinarnya dan bula mulai menggantikan
posisinya. Kemana aku harus pergi, pasti Buyah sedang memikirkanku tapi ku tak
perduli semua kasih sayangnya selama ini hanya palsu belaka, untuk apa ku
memikirkan pembohong sepertinya. Sepertinya ada tempat pos satpam disana akan
lebih baik ku berisitirahat disana untuk semalam ini. Sudah berapa jauhkah
diriku melangkah dengan tongkat ini sampai aku tak mengenali tempat ini
sedikitpun. Setelah aku tepat berada di pos tersebut tak ada seorang pun
terlihat oleh ku, karena tubuhku sangat lelah aku tak sanggup tuk bergerak
banyak lagi, dan ku putuskan untuk bermalam disini. Aku tak mampu memejamkan
mata sayu ini, sepertinya tidurku kali ini akan berbeda dari biasanya,
mengingat tubuh Buyah sebagai selimut ku kala dinginnya malam menusuk tulangku.
Terlintas bayangan tentang Buyah dan
kado pemberiannya yang membuatku tak berdaya sampai saat ini, tak kuasa hatiku
membaca isi kertas kado itu hingga aku tak membaca sampai selesai. Teringat
kata – kata tentang orangtua ku di kertas tersebut sambil memejamkan mata ini
dan ku mulai tak sadar perlahan lahan hingga akhirnya memasukki dunia mimpi.
“Sebelumnya Buyah minta maaf
dari hati terdalam, Buyah juga tidak ingin membuatmu menangis bahkan kecewa
atau marah kepada Buyah, namun Buyah rasa kamu sudah cukup dewasa untuk
mengetahui segalanya. Hmm Buyah yakin pasti kamu dapat membacanya dengan cermat
dan sepenuh hati. Jadi sebenarnya orangtua mu itu .... ya ibumu telah lama
meninggal saat melahirkan mu karena kondisi kelahiranmu yang tidak seperti bayi
pada umumnya Buyah memutuskan untuk menyembunyikan kematian ibumu sampai kamu
cukup dewasa untuk mengetahuinya. Kini Buyah yakin kamu sudah pantas untuk
mengetahuinya... sedangkan bapak mu nak, dia telah lama menjadi TKI sejak
usiamu 3 tahun. Pada saat itu Buyah hanya sebagai tetanggamu yang bahkan tidak
ada kaitan keluarga dengan mu, tapi Buyah tak tega melihat dirimu yang
ditinggal pergi oleh ayahmu melampau batas negeri ini. Mungkin Buyah tak ingin
menjadi sesosok pahlawan didepan mu tapi ini semua demi kebaikanmu sayang.
Sejak saat itu Buyah memberanikan diri tuk mengasuhmu karena tak ada seorang
pun yang ingin mengasuh anak dengan tongkat sepertimu. Tapi hal itu tak berlaku
bagi Buyah, Buyah menyayangimu apa adanya dengan buih buih cinta dan kasih
sayang Buyah membesarkanmu, merawatmu, bahkan Buyah sudah menganggapmu sebagai
anak kandung Buyah sendiri. Kau tahu betapa sakitnya Buyah saat kau dihina
orang lain? Kau tahu betapa pedihnya hati ini saat kau sakit? Dan kau tahu
betapa lemahnya diriku saat kau mencoba berjalan?... buyah bukan bermaksud
membohongimu, tapi Buyah hanya tidak ingin membuatmu cemas karena kau tidak
boleh berpikir terlalu banyak mengingat kondisimu yang tak seperti orang pada
umumnya. Seharusnya Buyah tak melakukan ini tapi harus bagaimana lagi. Buyah
sayang kau Nomi, jangan marah apalagi kecewa kepada Buyah. Maafkan kejujuran
ini walau menyakitkan karena takkan mungkin bisa Buyah bertahan dengan
menyembunyikan ini semua. Sekali lagi tolong maafkan Buyah....”
Iyaa
Buyahhh maafkan Nomiiiiiii. HH HH HH HH, ternyata hanya mimpi, tapi mengapa
begitu nyata yaa apakah ini tanda bahwa kebenaran dalam mimpiku itu nyata? Ayam
sudah mengeluarkan suara khasnya , Aku harus cepat kembali ke rumah dan
menanyakan ini semua! Kemudian Nomi pun kembali kerumah namun ia tak tahu harus
memulai dari mana karena daerah yang kini ia tapakki sudah ia tak kenali.
Secepat kilat ia berpikir dan menemukan jawabannya, “oiyaa aku menggunakan
tongkat ini tuk berjalan dan syukurnya tanah dikampung ini belum tertupi oleh
blok batu sehingga bekas jejak tongkatku akan membantuku untuk menemukan rumah
Buyah” pikirnya.
Lalu
Nomi mulai menggerakkan pegerak kakinnya itu, jejak demi jejak ia ikuti hingga berakir
pada halaman rumah Buyah.
“Assalamualaikum,
(tok,tok,tok). Buyah ini Nomi, tolong buka pintunya”
“Waalaikumsalam
Nomi (memeluknya dengan erat)”
“Buyah,,,
Nomi ingin bertanya seseuatu kepada Buyah, boleh?”
“Iya
nak, silahkan (melepaskan pelukkannya)”
“Jadi
semalam Nomi bermimpi dan ...”
“Oh
iya nak, Buyah tahu apa yang akan kamu ucap. (memotong pembicaraan Nomi)”
“hah?
Darimana Buyah tau sedangkan aku baru saja memulai berbiara”
“Ini
nak, kamu pasti belum membaca semua isi kado itu kan? Buyah tahu mungkin karena
rasa kesal dan kecewa mu sehingga kau tak membaca semua isi kado itu.”(memberi
kadonya)
“ehm,
boleh Nomi baca?”
“iya
nak bacalah sepenuh hatimu”
(Setelah membaca semuanya, ternyata
tulisan di kertas itu sama persis dengan apa yang Buyah katakan didalam mimpi)
“Buyah,,,
ma.. ma.. maafkan Nomi (menjatuhkan airmata dan memeluk Buyah)”
“Tak
apa nak, tapi mengapa mimpi mu bisa sama persis dengan tulisan Buyah ya?”
“Tidak
tahu, tapi yang jelas pada saat itu Buyah selalu terngiang dalam pikiranku, aku
janji
Tidak akan pernah mengulangi kejadian
ini.. aku janji Buyah. Aku tidak mau kehilangan mu”
“Iya
nak, Buyah juga tidak akan pernah membiarkan seorang pun memisahkan kita. Buyah
sudah memaafkanmu dan kamu, tolong maafkan Buyah ya nak”
“tidak
Buyah, ini semua salah Nomi. Bahkan Nomi tidak akan pernah mampu membalas kasih
sayang Buyah selama ini. Terimakasih Buyah atas kado kejujuran Buyah, bagi Nomi
itu sangat berharga sampai sampai terbawa mimpi. Hehe”
“Iya
sayang...” (memeluk Nomi dan mengelus rambut panjangnya).
Kini
aku tahu bahwa kasih sayang bukanlah hal yang mampu membuatmu melakukan apa
yang kau mau. Tapi hal yang mampu membuatmu tegar, nyaman, dan tak akan pernah
merasa sepi. Buyah telah memberikan segalany kepadaku, bahkan aku tak akan
pernah bisa membalas sebiji anggur kebaikkannya. Orang tua ku,, aku akan selalu
mendoakanmu, semoga kau bahagia di samping Tuhan dan jangan pernah khawatir
disini, karena aku memiliki Buyah sebagai malaikat duniaku.
TERIMAKASIH BUYAH...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar